Nasionalisme Para Pedagang…(1)

Logo hari kemerdekaan ke 64Hari Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus semakin dekat, warga mulai memasang umbul-umbul dan bendera merah putih di sekitar lingkungannya. Hal itu diikuti dengan kemunculan pedagang pernak-pernik merah putih dan pedagang panjat pinang. Kemunculan keduanya menjadi awal euforia nasionalisme masyarakat Indonesia jelang 17 Agustus.

Khusus pedagang pohon pinang, memang menarik banyak perhatian. Maklum saja, dari pedagang inilah rama riuh panjat pinang yang melegenda itu berawal. Awalnya, tradisi panjat Pinang berasal dari warisan penjajahan Belanda. Dahulu kala, panjat pinang ini memang identik dengan satirsme penjajahan Belanda. Rakyat jelata berjibaku mendapatkan hadiah-hadiah diatasnya dengan disaksikan canda tawa para noni dari Belanda.

Maka tak heran, beberapa pihak menginginkan agar tradisi ini dihentikan karena dinilai tidak mendidik dan hanya menghambur-hamburkan uang melalui hadiah-hadiah yang diberikan. Meski begitu, dibalik pro dan kontra keberadaan tradisi ini, Panjat Pinang telah mendarah daging dan menjadi hiburan istimewa saat hari raya kemerdekaan.

[via] republika.co.id

Hal itu diakui salah satu pedagang Pohon Panjat Pinang di bilangan kalimalang, Jakarta Timur, Muhammad zen yang ditemui Republika Online, awal pekan ini. Zen, yang telah berjualan pohon panjat pinang semenjak tahun 1980an ini tidak setuju dengan anggapan yang menyatakan pohon panjat pinang merupakan kegiatan yang menghambur-hamburkan uang. Justru dia berpendapat, rasa nasionalisme bisa terbentuk melalui tradisi ini. “Jangan salah, tradisi ini yang merupakan hal yang ditunggu-tunggu rakyat kecil. Jangan lihat hadiahnya, tapi bagaimana panjat pinang bisa menjadi semacam contoh kemenangan dari buah kerja sama,” katanya.

Zen sendiri mengaku, keputusan dirinya berjualan pohon panjat pinang bukan tanpa sebab. Ia ingin memperlihatkan rasa nasionalisme yang berkobar dihatinya dengan berjualan pohon panjat pinang. “Perang kini bukan jamannya lagi. Sekarang saatnya berjualan pohon panjat pinang,” tegasnya sembari tersenyum.

Dia berani berkata demikian, karena diakui Zen untuk menjadi pedagang panjat pinang dirinya harus jungkir balik. Bermula dengan mencari pohon pinang di kawasan Sukabumi, Jawa Barat. Zen mengaku harus berjalan sejauh 10 km dari pelosok desa terdekat guna mendapatkan pohon pinang. Dahulu ia memperoleh pohon pinang disekitar wilayah Rangkas Bitung, Cilebut dan Citayam, Jawa Barat. Namun, berhubung ketiga wilayah tersebut telah menjadi kawasan permukiman. Secara otomatis, ketiga kawasan tersebut tidak lagi menjadi andalan Zen mendapatkan pohon pinang.

Tak sampai disitu, karena tampilan pohon pinang yang mencolok kerap memancing curiga para polisi. Sehingga muatan miliki Zen harus siap diberhentikan polisi.”Saya ini punya izin keluarahan lho. Tapi tetap saja,saya harus mengeluarkan uang lumayan guna menghindari tilangan polisi,” ungkapnya.

Perjuangan pun belum selesai, Zen harus berhadapan lagi dengan proses pembuatan. Kadang luka lecet dan memar sudah menjadi hal yang biasa. Dengan pohon setinggi 9 meter maka potensi resiko terluka begitu besar.Untuk mengangkat satu pohon pinang, Zen mengaku saja membutuhkan lebih dari 5 orang.

[via] republika.co.id

One response to “Nasionalisme Para Pedagang…(1)

  1. wah, semangat pak zen, menurut saya juga panjat pinang itu menjadi hiburan yang mengajarkan untuk kerjasama di pemuda

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s